Kehebohan terkait kegiatan, terutama di tempat – tempat dengan nilai ekoligi yang sangat tinggi seperti raja ampat, kini yang terbaru masyarakat adat maba sangadji dan PT Pesetion, dan sekarang “ hutan patani ’’ juga dalam kondisi terancam tambang
Hal ini memicu pertayaan bagaimana respon masyarakat dan mahasiswa, ketika hutan patani akan menghadapi bencana terbesar ( tambang). Seperti yang kita ketahui bersama hutan patani bukan hanya sebatas hutan tapi dia adalah ruma bagi masarakat patani, segalah kelimpahan yang ada telah mampu menidak lanjuti hidup masarakat.
Kebergantungan masyarakat patani terhadap hutan patani, begitu sangat besar hal ini suda berlanjut begitu lama. Ketergantungan masyarakat patani terhadap hutan patani karna memiliki alasan yang cukup kuat, masyarakat meyakini bahwa manusia dan alam itu memiliki hubungan spritual yang kuat, sehinggah alam itu dirusaki maka manusia akan mendapat ganjaran terhadap apa yang telah diperbuat.
Akan tetapi kekuasaan memiliki pola pikir yang berbeda, hal ini bisa terlihat ketika rejim jokowi Ma, ruf amin terpilih sebagai presiden, dan wakil presiden dalam periode pertama mereka jokowi memiliki ambisi menjadikan indonesia sebagai salah satu pusat industri mobil listrik dunia. Hal ini memicu kerusakan hutan besar-besaran di indonesia.
Alih-alih memberhentikan kerusakan pemerintah malahan terus menidaklanjuti eksploitasi hutan secarah besar-besaran. Hal ini bergandengan denggan kebutuhan oligapoli ( oligarki politik indonesia). Kita bisa melihat secarah signifikan bagaimana kondisi hutan di indonesai dari papua hinggah halmahera, semua di babat atas nama negara dan kesejahteraan rayat padahal rayat di jadikan korban dalam slogan kesejahteraan dan pembangunan.
Penulis teringat sosok yang karismatik dan kritis yakni Chico Mendes yang sampai ahir hidupnya memperjuangkan hutan amajon dari proyek kolonialisasi yang pada dasarnya pemebabatan hutan besar-besaran dan mengusir masyarakat yang bermukim di desa. Di tahun 1979 dan 80 an Brazil di bawa gengaman diktator militer yang mendorong pembabatan Amzon secarah besar-besaran. Hal ini memicu gelombang protes besar-besaran yang di komandoi Chico Mendes dan afonso yang pada ahirnya mendes harus menjadi korban dari rejim diktaktor Brazil kala itu.
Pelajaran terpenting dari perjuangan Chico Mendes dan afonso adalah soal mempertahankan alam, hal ini serupa terjadi di indonesia,banyak kalangan aktifis, masyarakat adat di penjara karna menolak tambang seperti yang terjadi pada masyarakat adat maba sangadji ketika melawan PT Pesetion.
Konteks menolak tambang bukan hanya sebatas argumentasi yang lahir secarah Cuma-Cuma tetapi dia lahir lewat kondisi realitas yang terjadi, suda banyak fakta yang membuat kita yakin untuk menolak tambang, halmahera tengah, papua, kaltim, halmahera timur, itu menjadi saksi bagaiman perusahaan tambang merusak dan merampas kehidupan manusia dan alam.
Kehawatiran ini muncul akibat banyak fakta yang telah membuktikan itu, bagaimana demi kepentingan negara rakyat dan hutan harus di korbankan, padahal jika di cek secarah seksama maka kita akan mengetahui dan menemukan bahwa semua ini hanya akan memperkaya elit nasional. Sedangkan rakyat akan mendapatkan dampak buruk dari pertambangan itu.
Hutan patani adalah aset yang sangat berharga buat masyarakat patani, dia adalah sumber kehidupan yang telah banyak memberikan manfaat kepada masyarakat patani. Sebagian masyarakat patani adalah petani yang notabenen nya adalah petani pala,cengkeh,kelapa dan sebagian hutan patani suda di tanami pala,cengkeh, dan kelapa.
Ancaman tambang suda menjadi momok yang sangat menakutkan buat kita semua terlebih lagi tambang yang beroperasi itu ternyata hanya di miliki oleh segelintir orang saja dalam hal prifatisasi tambang atau kepemilikan pribadi. Hal ini di dorong kuat oleh pemerintah pusat, dan naiknya bahlil lahaladia sebagai ketum golkar itu semakin memperkuat bisnis gurita oligarki tambang
Di bawa rejim prabowo gibran yang juga melanjutkan hilirisasi nikel menjadi jargon yang di utamakan maka proses kerusakan hutan akan terus berlanjut dan korporasi pun akan semakin kaya sedangkan rakyat akan terus mendapatkan kesengsaraan.
Banyak fakta yang telah membuktikan itu banyak pertambangan di maluku utara yang ternyata itu di miliki oleh segelintir orang seperti PT Anugrah sukses mining yang di miliki oleh PT harum Resources dengan total saham 99%, agus pujianto 1%. PT mineral trobos yang juga di miliki oleh fabian nahusuly 10%, dan lauritzke Mantulameten 90%. Dan masi banyak lagi.
Halamahera tengah menjadi cerminan buat kita semua, pulau gebe kini berasa di ujung tanduk menuju neraka buat negara, kekuasaan selalu condong pada pemilik modal tidak ada kepastian hidup yang baik menghirup udara yang baik, semua di tambang atas nama kesejahteraan.
Kenapa kita semua membutuhkan refleksi terhadap setiap kejadian yang terjadi, agar hal ini menjadi cerminan dan muatan kita dalam setiap keputusan dan kebijakan yang akan di keluarkan, di tahun 2016 PT manggala rimbah sejahtera perna menguncang hutan patani, posisi itu membuat intelektual dan masarakat menolak keras, tapi kita meyakini selama pemilik modal masi menguasi jantung pengambilan kebijakan maka pengintaiyan untuk merusakan hutan patani pasti akan terjadi saja.
Kita bisa melihat pulau gebe sejak tahun 1968, di pulau gebe telah beroperasi perusahaan tambang milik negara jepang PT. indonesia nickel Development (INDECO). Kemudian, pada periode 1979-2004, PT. ANTAM mengambil alih operasi di pulau tersebut.
Aktifitas pertambangan ini sempat menjadikan pulau gebe di kenal sebagai “ kota ternate kedua”. Kehadiran perusahaan mengubah wajah pulau yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang benarang, meyediakan air bersih yang berlimpah, hingga menghadirkan artis nasional dalam setiap perayaan hari kemerdekaan 17 agustus.
Namun sangat meyedihkan ketika PT. ANTAM, setelah habis mengeruk sumber daya alam pulau gebe, memutuskan untuk angkat kaki. Mereka meniggalkan luka yang sulit disembuhkan, pulau gebe kembali gelap, air bersih menjadi langkah, lapangan pekerjaan hilang, dan lahan-lahan pertanian rusak akibat pengerukan yang masif.
Belum sembuh luka itu, bermunculanlah perusahaan-perusahaan tambang baru.mulai tahun 2006, hadir PT. Gebe karya mandiri ( GKM ) disusul PT. Fajar bhakti lintas nusantara ( FBLN ) pada 2012 bahkan hingga kini muncul pula perusahaan seperti PT. Smart Marsindo.
Apakah kehadiran perusahaan-perusahaan ini meyembuhkan luka masyarakat pulau gebe! Faktanya, luka itu justru menjadi seperti kanker yang semakin parah, merusak lebih dalam lagi. Pulau gebe menjadi refleksi yang serius bagi hutan patani, bahwa jika yang hijau di rusaki, dan sungai yang mengalir dengan air yang jerni di rusaki, maka kepunahan dan konflik sosial akan terjadi.
Fakta-fakta kerusakan ini yang membuat kita harus belajar bahwa kenikmatan sesaat akan di bayar denggan kerusakan yang berkepanjangan, lihat saja pulau gebe, desa sagea,desa lelilef, kehancuran lingkungan dan konflik sosial terus terjadi. Maka dari refleksi kerusakan itu, kita bisa memetik hikmanya, jika kekuasaan masi di pegang oleh elit dan pemodal maka kehancuran akan terus terjadi.
******
