Menolak Feodalisme : Kami Tidak Butuh Restu, Kami Hanya Butuh Ruang Untuk Merdeka Dan Berdaulat!

Organisasi mahasiswa bukan tempat pelarian dari realitas, bukan pula panggung kecil bagi orang-orang haus pengakuan. Ia adalah ruang perjuangan tempat di mana ide, keberanian, dan moralitas diuji oleh keadaan. Karena itu, organisasi mahasiswa harus merdeka, berdaulat, mandiri, dan independen. Tanpa itu, ia tak lebih dari sekadar boneka yang digerakkan oleh tangan-tangan kekuasaan, senioritas yang usang, dan komentar-komentar kosong dari orang-orang yang tak pernah mau memahami makna perjuangan.

Kemerdekaan organisasi mahasiswa bukan hanya soal bebas menggelar kegiatan tanpa izin kampus, tetapi keberanian untuk berpikir dan bersuara tanpa dikendalikan termasuk oleh bayang-bayang senior dan demisioner yang merasa masih berhak menentukan arah perjuangan. Merdeka berarti berani berbeda, bahkan jika perbedaan itu harus dibayar dengan tekanan, stigma, atau ancaman.

Namun, sering kali kemerdekaan itu dirampas bukan oleh penguasa, melainkan oleh para senior yang merasa paling tahu segalanya. Mereka memposisikan diri sebagai “penjaga warisan perjuangan,” tapi lupa bahwa setiap generasi punya hak untuk menentukan jalannya sendiri. Nasehat berubah menjadi intervensi, bimbingan menjadi dominasi, dan solidaritas berubah menjadi pengawasan. Padahal, organisasi mahasiswa bukan lembaga warisan turun-temurun yang harus dijaga dengan doktrin kaku. Kedaulatan sejati hanya lahir ketika generasi baru dipercaya untuk berpikir, bereksperimen, dan bahkan berbuat salah demi menemukan arah perjuangannya sendiri.

Selama ini, terlalu banyak organisasi gerakan yang kehilangan arah perjuangan karena terjebak dalam pola pikir feodal: senior dianggap raja, junior dianggap bawahan. Petuah berubah jadi perintah, bimbingan menjadi tekanan, dan warisan perjuangan dijadikan alat kontrol. Fenomena ini juga menghantui banyak organisasi progresif, termasuk LMID (Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi). Di balik jargon ideologis, ternyata masih bersembunyi praktik lama yang mengekang ruang hidup generasi baru.

Generasi baru LMID (Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) tidak boleh lagi menjadi budak dalam rumahnya sendiri. Kedaulatan organisasi harus dikembalikan kepada anggota aktif, bukan kepada figur masa lalu yang menjadikan “pengalaman” sebagai legitimasi untuk mendikte arah perjuangan. Setiap generasi memiliki konteks dan tantangannya sendiri; dan dengan itu, mereka berhak menafsirkan, memperluas, bahkan menggugat cara-cara lama yang tidak relevan dengan kondisi hari ini.

Kemerdekaan organisasi mahasiswa bukan hanya soal bebas menggelar kegiatan tanpa izin kampus, tetapi keberanian untuk berpikir dan bersuara tanpa dikendalikan termasuk oleh bayang-bayang senior dan demisioner yang merasa masih berhak menentukan arah perjuangan. Merdeka berarti berani berbeda, bahkan jika perbedaan itu harus dibayar dengan tekanan, stigma, atau ancaman.

Namun, sering kali kemerdekaan itu dirampas bukan oleh penguasa, melainkan oleh para senior yang merasa paling tahu segalanya. Mereka memposisikan diri sebagai “penjaga warisan perjuangan,” tapi lupa bahwa setiap generasi punya hak untuk menentukan jalannya sendiri. Nasehat berubah menjadi intervensi, bimbingan menjadi dominasi, dan solidaritas berubah menjadi pengawasan. Padahal, organisasi mahasiswa bukan lembaga warisan turun-temurun yang harus dijaga dengan doktrin kaku. Kedaulatan sejati hanya lahir ketika generasi baru dipercaya untuk berpikir, bereksperimen, dan bahkan berbuat salah demi menemukan arah perjuangannya sendiri.

Selama ini, terlalu banyak organisasi gerakan yang kehilangan arah perjuangan karena terjebak dalam pola pikir feodal: senior dianggap raja, junior dianggap bawahan. Petuah berubah jadi perintah, bimbingan menjadi tekanan, dan warisan perjuangan dijadikan alat kontrol. Fenomena ini juga menghantui banyak organisasi progresif, termasuk LMID (Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi). Di balik jargon ideologis, ternyata masih bersembunyi praktik lama yang mengekang ruang hidup generasi baru.

Generasi baru LMID (Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) tidak boleh lagi menjadi budak dalam rumahnya sendiri. Kedaulatan organisasi harus dikembalikan kepada anggota aktif, bukan kepada figur masa lalu yang menjadikan “pengalaman” sebagai legitimasi untuk mendikte arah perjuangan. Setiap generasi memiliki konteks dan tantangannya sendiri; dan dengan itu, mereka berhak menafsirkan, memperluas, bahkan menggugat cara-cara lama yang tidak relevan dengan kondisi hari ini.

Sudah saatnya kita semua berdiri di atas kaki sendiri, bicara dengan suaranya sendiri, dan berjuang dengan caranya sendiri. Tidak lagi tunduk pada intervensi senior, tidak lagi diam terhadap kritik kosong, dan tidak lagi menggantungkan diri pada kekuasaan. Karena sejatinya, kemerdekaan bukanlah hadiah, ia adalah hasil dari keberanian untuk melawan dominasi penjajah dan penakluk.

LMID tidak dilahirkan untuk menjadi barisan yang menunduk. Ia ada untuk mengguncang, menggugat, dan melawan setiap bentuk penjinakan baik oleh kekuasaan, kampus, maupun senioritas yang membatu. Kini, tugas generasi baru LMID adalah merebut kembali kedaulatannya: memutus rantai feodalisme organisasi, menolak segala bentuk intervensi, dan menegakkan ideologi rakyat sebagai satu-satunya kompas perjuangan. Karena di tengah arus pragmatisme dan penyeragaman pikiran, hanya organisasi yang berani merdeka yang akan bertahan. LMID akan terus teguh menegaskan dirinya: kami bukan pengikut, kami pelopor. Kami bukan bayangan masa lalu, kami masa depan yang bergerak.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *